Vernacular

Sunday
Mar 14th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home arrow Vernacular Architecture arrow Vernacular Architecture - Indonesia arrow Arsitektur Venakular - Mahluk Apa Itu?
Arsitektur Venakular - Mahluk Apa Itu? PDF Print E-mail
Written by Purnama Salura   
Wednesday, 08 October 2008
Bagi yang baru saja mendengar kata vernakular, saya sarankan untuk langsung membuka dahulu bagian akhir tulisan singkat ini. Disana akan anda temukan beberapa istilah terkait yang dilengkapi interpretasi arti katanya.
Cerita Pembuka

Ketika menghadiri sebuah seminar internasional tentang arsitektur vernakular beberapa tahun yang lalu, simpanan pengetahuan saya tentang topik itu nyaris tak punya. Kemudian ketika sesi tanya jawab dimulai, Wah... leganya hati ini, hampir sebagian besar peserta menanyakan dan meminta penjelasan seputar pemahaman arti arsitektur vernakular.

Rupanya tidak hanya saya saja yang buta-paham tentang topik tersebut.

Kejadian seperti digambarkan di atas, ternyata berulang kembali pada saat menghadiri simposium nasional arsitektur vernakular beberapa tahun sesudahnya. Pada saat itu salah seorang peserta angkat bicara memberi kritik-masukan : "Sebaiknya panitia menjelaskan arti arsitektur vernakular terlebih dahulu". Padahal ketika saya buka kembali leaflet yang disebarkan jauh sebelum simposium berlangsung, disitu pemahaman tentang topik arsitektur vernakular telah diuraikan secara singkat.

Argumen sekenanya yang saya simpulkan adalah:

  • Pertama, arsitektur-vernakular memang bagaikan mahluk yang tak jelas ujudnya bagi sebagian besar arsitek.
  • Kedua, peserta seminar atau simposium yang hadir didorong rasa ingin tahu akan arti arsitektur vernakular, jumlahnya selalu lebih banyak ketimbang yang hadir untuk berdiskusi tentang ragam-maknanya.

Jadi, walaupun kata arsitektur relatif sudah banyak dikenal oleh para arsitek maupun awam, tetapi kata vernakular nyatanya masih termasuk golongan luar-arsitektur alias kata asing bagi para arsitek, apalagi awam.

Arsitektur Adiluhung

Jika anda membuka buku sejarah-dunia, secara kronologis mulai jaman prasejarah sampai awal abad ke-20 selalu diisi kisah [his/story] para raja, pembesar yang berkuasa atau pahlawan besar. Mereka selalu dianugrahi atribut tinggi, besar, karena berwenang membuat putusan penting yang membawa dampak perubahan dahsyat bagi masyarakat kebanyakan. Firaun, Caecar, Cleopatra, Louis, Elisabeth, Pu Yi, Napoleon, Washington, adalah deretan nama tokoh yang besar dan hebat. Kisah mereka seakan sejalan dengan kisah istana, mahkota, pakaian kebesaran, pedang excalibur, sampai stempel emas kerajaan yang bertabur berlian di sana sini.

Kecenderungan berkisah tentang sesuatu yang gigantic berimbas juga pada sejarah arsitektur. Coba simak buku sejarah arsitektur Indonesia yang penulisnya kebanyakan berasal dari mancanegara. Aneh??? Tidaklah... Menurut pendapat pribadi saya, ini mungkin karena para arsitek Indonesia masih terlalu sibuk ber-politikasitektur sehingga jarang yang punya kesempatan dan cukup waktu untuk menulis dan menerbitkan buku sejarah arsitektur Indonesia.

Bagaimana isi buku sejarah arsitektur di atas?... Setali tiga uang, materi penulisan cenderung bercerita tentang istana dan bangunan keagamaan yang digunakan sebagai sarana aktivitas mereka. Tidak heran jika fokus cerita arsitektur berkisar seputar kemegahan dan citarasa luhur atau ke-adiluhung-an penampilan bangunan. Boleh dikata hampir semua pengajaran (pengetahuan) arsitektur pada saat itu diperkenalkan lewat estetika-feodalistik istana atau bangunan keagamaan. Di Eropa, konon gaya arsitektur yang dianggap layak dipelajari adalah : order tiang kuil Yunani, aturan Baroque-Rococo, canon gereja Gothic dan simbol intelektual perpustakaan Rennaisance . Wah...

Alkisah, para toean-Londo yang kebetulan mampir dan singgah selama kurang lebih 350 tahun di Nusantara yang indah, ikut menyebar-luaskan pengetahuan di atas. Sampai-sampai di tanah yang bagai kolam susu ini, pemerintah Belanda juga memaksa-kenalkan gaya arsitektur-istana yang dijiplak dari Eropa seperti apa adanya dan kemudian dipaksa-terapkan pada Istana di Jakarta, Bogor, Cipanas dan perkantoran-perkantoran pemerintah kolonial lainnya. Jika anda berkesempatan ziarah-bangunan menyusuri kota besar di pulau jawa, arsitektur copy-cat ini dengan mudah anda temui. Sisa-sisa warisan toean-Londo ini sebagian kecil masih berdiri berkat usaha para pencintanya. Sebagian besar memang sudah tidak layak pakai karena terengah-engah beradaptasi dengan denyut napas kemajuan. Belum lagi banyak yang kondisi fisiknya amburadul tidak terpelihara merana digerogoti keramahan iklim dua musim ini.

Untungnya tidak semua toean-Londo gemar dengan arsitektur copy-cat. Syahdan ketika meneer Berlage seorang arsitek kenamaan Belanda tahun 20 an sempat plesir ke Hindia Belanda, ia melontarkan kritik terhadap jenis arsitektur ini. Mungkin juga akibat pengaruh politik-etis yang sedang hangat di negrinya, ia lalu menghimbau agar para arsitek yang berprofesi di Hindia Belanda mulai menoleh pada arsitektur inlander. Gayung bersambut, terbilang Pont, Karsten mulai keranjingan bangunan lokal yang kala itu mereka sebut tradisional. Karya besar seperti Aula Timur dan Barat ITB di Bandung, Gereja Pohsarang di Kediri, masih berdiri dan kerap dijadikan bahan telaah skripsi mahasiswa arsitektur.

Arsitektur Bersahaja

Tiga tahun setelah kemerdekaan Indonesia di proklamasikan, tepatnya tahun 1948, Bernard Rudofsky seorang arsitek, dan kritikus seni yang mendapat pendidikan di Vienna Swiss, mempublikasikan sebuah buku menarik yang berjudul: Are our Clotches Modern? Dalam bukunya ia mengemukakan bahwa sejarah tentang "busana" pada saat itu umumnya hanya memaparkan perihal adi-busana raja serta pemuka agama. Hal inilah yang kemudian mendorong Rudofsky untuk mengumpulkan dan mengetengahkan catatan atau sketsa yang dibuat para pelukis tentang budaya-pakaian masyarakat kebanyakan (common/lay -people). Ternyata dokumen Rudofsky menarik perhatian penyandang dana besar seperti Guggenheim dan Ford Foundation. Institusi kaya dan bergengsi ini lalu membiayai penelitian baru Rudolfsky yaitu: Non-Formal, Non Classified Architecture.

Pada tahun 1964, Rudofsky memamerkan hasil riset yang dikerjakan selama bertahun-tahun tentang topik baru tersebut di Museum of Modern Art [MOMA] NewYork. Bersamaan dengan pameran itu, ia melansir buku dengan judul yang sama dengan judul pamerannya yaitu: Architecture without Architecs. Pameran dan penerbitan buku ini didominasi oleh 156 buah foto hitam-putih lengkap dengan ulasan tentang permukiman dan rumah-rumah yang tumbuh dari dan untuk masyarakatnya di seluruh dunia. Sesuai dengan judul bukunya, permukiman dan rumah-rumah ini tidak pernah mengenal siapa sang arsiteknya. Rudofsky berpendapat bahwa sudah saatnya para arsitek memperbaiki pandangan sempit tentang seni bangunan yang cenderung hanya berfokus pada obyek istana dan bangunan keagamaan.

Ia lalu mengajukan suatu tipe yaitu: "Unfamiliar non Pedigreed Architecture" yang nyaris tidak pernah dikenal dan bahkan belum pernah ada istilah penamaan untuk jenis arsitektur ini. Rudofsky kemudian menyebut jenis arsitektur ini dengan label vernacular-architecture. Istilah vernakular (Latin: vernaculus = native) sendiri jika merujuk pada ilmu bahasa, umumnya digunakan untuk menunjukkan kadar kekentalan dialek lokal dan kadang sesekali dipakai juga untuk menandai bangunan lokal. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa arsitektur jenis vernakular ini sangat kuat menekankan pada seluruh aspek ke"lokal"annya. Studi tentang aspek lokal ini awalnya dilakukan oleh para penjelajah mancanegara dari belahan dunia Barat yang melakukan ekspedisi ke daerah-daerah terpencil di belahan dunia lain yang belum pernah mereka injak. Pengetahuan ini kemudian dikembangkan lebih lanjut dan diwacanakan menjadi ilmu oleh bidang arkeologi dan antropologi. Sedangkan telaah tentang arsitektur (vernakular) sendiri pada masa itu hanyalah merupakan sebagian kecil pelengkap catatan para penjelajah ekspedisi. Catatan yang disusun secara sitematik dari berbagai tulisan ini disebut etnografis.

Sejak Rudofsky menggelar pameran yang berjudul Architecture without Architects, para teoritisi arsitektur di negeri Barat kemudian mulai memosisikan arsitektur-vernakular sebagai salah satu kajian baru dalam teori-teori arsitektur yang saat itu didominasi oleh teori-teori arsitektur klasik dan modern. Dalam wacana pengetahuan arsitektur vernakular dunia, cukup banyak para ahli yang tertarik untuk mendalami pengetahuan ini. Walaupun demikian saya hendak mengedepankan dua tokoh mancanegara penting yaitu Amos Rapoport dan Paul Oliver yang amat konsisten menggeluti pengetahuan ini. Mereka dapat dijuluki sebagai pakar arsitektur-vernakular dengan skala dunia. Buku-buku yang ditulis kedua tokoh tersebut hampir selalu dijadikan titik-pijak bagi penulisan arsitektur-vernakular sampai saat kini. Berdasar tradisi cara membangunnya, Rapoport dalam buku klasiknya House form and culture, membagi bangunan menjadi grand-tradition dan folk-tradition. Istana megah dan bangunan keagamaan digolongkan ke dalam grand-tradition. Sementara architecture without architects digolongkan sebagai bangunan folk-tradition. Pada klasifikasi folk-tradition ia menempatkan dua kelompok: kelompok arsitektur primitif dan arsitektur vernakular. Rapoport kemudian mengidentifikasi lanjut bahwa jenis arsitektur vernakular yang ada dapat dipisahkan sebagai vernakular-tradisional dan vernakular-modern. Walaupun pengklasifikasian jenis arsitektur berdasarkan tradisi membangun ini cukup menjanjikan untuk saat itu (1969), tetapi agaknya belum cukup dapat menerangkan tentang keseluruhan aspek arsitektur vernakular secara lebih tajam.

Sementara Oliver dalam bukunya yang berjudul Encyclopedia of vernacular-architecture of the world memberikan gambaran yang cukup mendalam tentang pemahaman arsitektur vernakular. Ia mencoba mendefinisikan arsitektur-vernakular sebagai suatu kumpulan rumah dan bangunan penunjang lain yang sangat terikat dengan tersedianya sumber-sumber dari lingkungan. Bentuk rumah dan bangunan penunjang lain terwujud guna memenuhi kebutuhan spesifik serta mengakomodasi budaya yang mempengaruhinya. Sebagai editor, secara spektakuler dalam tiga jilid buku yang tebalnya masing-masing 5 cm ini, ia mengorganisasikan pengumpulan dan penyusunan ribuan data tentang arsitektur vernakular di dunia. Ia juga menyertakan ragam pandangan-pandangan keilmuan yang dapat dipakai untuk meneropong arsitektur vernakular. Mengacu pada isinya, buku ini memang tepat disebut sebagai ensiklopedia.

Argumen Alternatif

Reaksi rekan-rekan saya yang berprofesi sebagai arsitek praktisi terhadap isu arsitektur vernakular dapat dipisahkan menjadi tiga kelompok. Seperti layaknya golongan pemilih pada pilkada, ada yang pro, kontra dan golput alias tidak perduli. Pertanyaan-pertanyaan yang kontra seperti: "Apa sih perlunya arsitektur vernakular?" Memang mau balik lagi ke jaman kuno? Hari gini kok ngomongin bangunan kumuh?" Sedangkan komentar pro seperti: "Wah lumayan nih vernakular bisa jadi tema baru untuk mendesain." "Dalam konteks yang semakin global ini kita kan perlu memperkuat ciri lokal, nah mungkin vernakular bisa menjadi pilihan." Atau yang golput: "Emang Gua Pikirin?" "Yang paling penting peminatnya deh... kalo sekarang yang laku tipe minimalis ini itu...ya tipe itulah yang ok." "Tergantung trend lah... yang lagi popular itu yang paling benar." Perbedaan pandangan di atas tentu sah-sah saja, setiap orang berhak mengajukan pendapat dan bertindak sesuai dengan norma yang dianutnya. Lho… jika demikian, aturan atau norma mana yang bisa dipegang? Apakah semua menjadi benar dan sekaligus semua berubah salah? Itukah esensi kehidupan bebas sehingga konsekwensi kondisi chaos adalah sah?

Dalam seluruh aspek kehidupan, tujuan dan alat mencapai tujuan merupakan dua aspek yang harus ada, idealnya saling sinkron menunjang satu sama lain. Kehidupan sosial kemasyarakatan selalu bertujuan untuk mewujudkan cita-cita meningkatkan nilai hidup masyarakatnya menuju kemakmuran.Demikian halnya dengan keilmuan, tujuan luhur pengembangan keilmuan adalah untuk meningkatkan harkat kehidupan manusia melalui keilmuan (hasil yang dicapai oleh ilmu). Seperti kita ketahui pandangan scientism dimana pengembangan ilmu hanya melulu demi kemajuan ilmu sendiri sudah lama ditalak sebagai pendapat yang menyesatkan.Nah....dalam konteks tujuan di atas, pendapat pro, kontra atau golput terhadap arsitektur vernakular dapat kita posisikan.

Menyatakan pendapat yang lain (pro arsitektur vernakular) keliru berdasar pandangan bahwa pendapat sendiri (kontra arsitektur vernakular) benar, hanya cenderung meningkatkan kadar arogansi yang bermuara pada pengukuhan level pembodohan. Dengan demikian pada setiap teori arsitektur apakah itu vernakular, modern, posmodern, atau bahkan ultra modern (katakanlah itu nama teori baru yang akan datang), bila mempunyai tujuan luhur sebagai alat untuk menciptakan order selayaknyalah diberi apresiasi lebih. Ketimbang yang cenderung hanya menimbulkan chaos. Kita tahu bersama bahwa ritmik alam selalu mempunyai pola keseimbangan yang orderly, tetapi jika keseimbangan terganggu, denyut ritmik mulai tidak harmoni alias mulai chaos. Bayangkan saja matahari yang selalu terbit dari Timur dan terbenam ke Barat, selalu teratur tidak pernah mangkir. Ritmik ini lalu membawa keteraturan (order) yang mengakibatkan super aktifnya denyut kehidupan disiang hari dan redanya dimalam hari. Jadi semakin dekat suatu teori arsitektur dengan ritmik alam, logikanya teori tersebut juga akan dekat dengan ritmik order.

Argumen Eksplanasi

Berikut ini ijinkan saya berbagi pendapat tentang tiga kata kunci penting yang diharapkan dapat menjembatani pemahaman arti arsitektur vernakular:

orientasi-komunal

Arsitektur vernakular selalu lahir dalam suatu kumpulan manusia yang berjuang menjalani kehidupan dalam alamnya secara bersama-sama. Jika hubungan antar satu manusia dan lainnya masih saling kerabat, kumpulan ini akan bersifat lebih homogen. Dengan demikian komunalitas merupakan suatu hal mendasar yang mereka acu. Pada kumpulan ini adat tertulis maupun tidak, menjadi pegangan hidup bersama yang ditularkan turun temurun menjadi suatu tradisi. Mungkin berdasar hal ini dengan mudah para ahli budaya yang gemar membuat klasifikasi menggolongkan kumpulan ini sebagai kumpulan tradisional.

Nah... Berdasar pegangan hidup yang jauh dari dominasi individualitas mereka membangun tempat tinggalnya bersama-sama. Tidak ada seorang individu arsitek yang hebat, semua menjadi arsitek sekaligus pekerjanya. Di Nusantara tempat komunitas ini bernaung disebut kampung. Yang terletak di daerah pedalaman dan juga tumbuh di kota-kota besar. Umumnya kampung di pedalaman lebih bersifat tradisional, adaptif dengan adat dan alam setempat sehingga tampaknya lebih "exotic." Komunitasnya cenderung menetap turun temurun sehingga menganggap disitulah tanah dan roots mereka. Berbeda halnya dengan kampung di kota besar yang cenderung tumbuh secara pragmatis, sesuai dengan adanya kemampuan dan lebih bersifat sementara. Tidak heran secara fisik kampung komunitas ini tampak lebih "vile"

orientasi-proses

Perwujudan tempat tinggal dan seluruh fasilitas arsitektur vernakular lebih "kena" ditinjau dari proses ketimbang produknya. Mengapa? karena masyarakat komunal tadi selalu berlandas pada keteknikan pertukangan yang mereka miliki. Disini posisi craftmanship ditinggikan, dan ada keharusan menerapkan proses inisiasi pada tiap tahap pembangunan. Dengan demikian sangat musykil tempat tinggal dan seluruh fasilitas kehidupan tercipta tanpa tradisi yang dijunjung bersama di atas. Wah, sangat abstrak kedengarannya. Gampangnya begini... pada komunitas tradisional di manapun letaknya di dunia, seluruh tahap kehidupan harus ditandai dengan ijin yang dinyatakan dengan perbuatan... jadi tidak boleh niat hanya di dalam hati. Formalitas ini selalu dilakukan bersama-sama. Di Nusantara bisa saja berbentuk kenduri, hajat, selametan dan lain-lain. Pelaku utama dalam proses ini umumnya telah ditentukan secara turun temurun atau berdasar kesepakatan. Dengan demikian tidak heran rumah yang terbangun pasti akan serupa walaupun tak pernah persis sama satu dan lainnya.

orientasi-lokal

Kata lokal memang ambigu, arti katanya bisa diinterpretasikan luas, dapat juga sangat sempit. Ada tiga kata yang saya kedepankan untuk menerangkan orientasi-lokal pada arsitektur vernakular. Yaitu: place, people, period. Sejalan dengan etimologi (arti kata) nya, kehidupan vernakular sangat kental dengan aspek lokal. Aspek tempat misalnya tidak pernah dapat tergantikan oleh tempat lain. Tidak pernah ada tempat yang sama persis dibelahan manapun di dunia. Demikian halnya dengan aspek manusia serta waktunya. Disini (here), Kami (we), Sekarang (now) tentu lain ceritanya dengan Disana, Mereka, Kemarin dulu. Perwujudan arsitektur vernakular sangat erat dengan tiga aspek diatas. Inilah yang menyebabkan orientasi-lokal menjadi salah satu kata kunci. Konon peristiwa me-lokal-kan (menariknya kelingkaran dalam) sesuatu yang berasal dari nonlokal (lingkaran luar) itulah awal dari akulturasi yang akhirnya memiliki rentang lebar. Dengan men"disini"kan yang disana, meng"kami"kan mereka, meng"hidup"kan yang dulu dalam konteks kini, diyakini akan menciptakan arsitektur vernakular yang sah untuk disebut arsitektur setempat atau arsitektur lokal. Mengapa? Karena mahluk asing ini toh dapat tumbuh, berkembang, dan berasimilasi secara natural.Kecenderungan pada ketiga orientasi di ataslah yang mungkin menyebabkan mahluk asing di atas (arsitektur vernakular) tetap eksis sampai kini dan terus tumbuh dibelahan dunia manapun. Walaupun sebenarnya masih banyak literatur tentang arsitektur vernakular diterbitkan sejak tahun 1950 sampai sekarang, tapi umumnya masih di dominasi oleh para penulis dengan latar belakang ilmu budaya dan antropologi. Tentu hal ini bukan merupakan sesuatu yang mengherankan. Kenapa? Karena para arsitek yang menekuni mahluk asing ini masih sering meminjam teori dan metodologi budaya ketika mencoba membuat deskripsi dan interpretasinya.

Ada satu pertanyaan yang berulang-ulang mampir ditelinga saya:
Benarkah teori dan praktek berarsitektur sejak Vitruvius, Quincy, Groupius, Venturi, Rosi sampai Eisenman selalu sarat dipengaruhi pemikiran budaya?....

Cerita Penutup

Alkisah seorang dewa dari lapisan langit tertinggi turun kebumi Indonesia dengan misi mencari jawaban siapakah perancang terbaik di dunia? Sang dewa tidak diijinkan kembali kekayangan jika misinya belum berhasil. Begitu mendarat, dewa ini lalu mendapat penawaran dari event organiser untuk menentukan pilihan berdasar SMS terbanyak yang diterima seperti idol ini dan itu...Beliau menolak dengan alasan jika masyarakatnya "sakit" bisa jadi pilihan mereka adalah orang yang sama "sakit"nya. Penawaran berikutnya datang dari panitia yang mengusulkan mengumpulkan juri yang nantinya menghakimi siapa calon terbaik lalu mengganjar dengan awards. Beliau juga menolak dengan alasan bahwa hal yang paling sulit adalah menentukan kriteria jurinya. Apakah dewa dari kayangan atau manusia dari bumi? Apakah berdasarkan senioritas atau yunioritas? Berdasarkan pengalaman praktek profesional atau cuma sekedar teori keilmuan? Cerita di buat pendek....Setelah berkeliling sekian lama, dewa ini nyaris menangis karena putus asa sudah dekat. Beliau kemudian singgah duduk beristirahat di gubuk terbuka milik pak tani ditengah sawah...Ketika pak tani datang ia langsung mengeluh dan menceritakan kesusahan misinya turun ke bumi. Dengan santai pak tani menjawab : "Pak Dewa, kalau kami para petani membuat gubuk ditengah sawah ini selalu mikir-nya tentang yang "pas" (specific) saja." Pas sama cuacanya (specific to its climate), Pas sama tempatnya (specific to its site), Pas sama adat kebiasaan kami (specific to its culture), Pas sama saya dan teman-teman yang makainya (specific to its inhabitants), gitu lho pak"... "Lho ngomong-ngomong pak dewa kok keliatannya bisa nikmat beristirahat... apa gubuk ini pas untuk pak dewa?"

Sang Dewa lalu segera menghilang bergegas terbang menuju kayangan [...]

Maafkan saya yang tidak menyebut nama arsitek Indonesia dalam penulisan ini. Jujur saja, walaupun cukup banyak pemikiran-pemikiran brilian yang pernah saya dengar, tetapi alangkah tidak elok mengutip hanya berdasar pembicaraan. Sedangkan literatur buku yang diterbitkan oleh penulis Indonesia untuk dikutip nyaris tidak ada, jika ada itupun langka dan sulit mendapatkannya.
Interpretasi arti kata
  • vernacular:
    L - vernaculus - verna
    , artinya anak budak yang lahir diarea rumah tuannya
    Bahasa daerah, logat asli, dialek seperti diutarakan dalam bahasa sehari-hari, bahasa rakyat, gaya bahasa
    Berdasar tempat kelahiran
    Berbeda dengan bahasa formal yang diajarkan di sekolah
    Arsitektur vernakular, adalah arsitektur yang perwujudannya sangat erat dengan seluruh kondisi setempat dimana ia tumbuh.
  • traditional:
    L - traditio - onis
    , artinya melewati, memberikan, meneruskan
    Penerusan opini atau praktek tidak tertulis untuk diikuti atau dijadikan norma agar hidup selalu selamat terjaga
    Konvensi yang terjalin berkat praktek sehari-hari
    Arsitektur tradisional, adalah arsitektur yang perwujudannya berlandas pada tradisi yang dianut oleh masyarakatnya.
  • folk (tradition)
    OE- folc, ON- folk, Ger-volk
    , artinya rakyat, bangsa
    Orang-orang sejenis Folk tradition architecture artinya arsitektur yang sudah merakyat, berdasar tradisi membangunnya. Arsitektur dengan bentuk umum yang dapat ditemui di mana-mana ditempat tersebut
  • grand (tradition)
    L – grandis, F - grand,
    artinya agung, besar, mewah
    Paling tinggi letaknya dalam suatu susunan
    Gaya kehidupan yang serba wah.Grand tradition architecture artinya arsitektur yang agung, serba khusus perlakuannya, paling menonjol dari yang lain, mempunyai cita rasa yang berbeda dari yang kebanyakan karena diwujudkan dalam tradisi yang serba agung.
  • communal
    L – communis, F - commune
    , artinya yang bertujuan dan berhubungan dengan umum
    Sekelompok orang yang hidup bersama dengan membagi kepemilikan.
    Pembentukan kelompok berdasarkan kepentingan dan perhatian yang sama
  • local
    L – localis - locus
    , artinya tempat
    Segala sesuatu tentang tempat.
    Lokalitas: bersifat ketempatan atau eksis dalam tempat
    Arsitektur lokal artinya arsitektur yang perwujudannya mengandung nilai-nilai atau karakter setempat. Elemen setempat itu dapat saja pada keseluruhan bentuknya atau hanya melekat pada detail ornamen.
Last Updated ( Wednesday, 08 October 2008 )
 
Next >