Vernacular

Saturday
Mar 13th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Peran Warung PDF Print E-mail
Written by David Hutama   
Monday, 06 October 2008

Peran Warung dalam Pembentukan Ruang Khalayak di Kota Gede, Yogyakarta1

Abstrak

Kota Gede adalah salah satu kota tua di Jawa. Kota ini dikenal karena sangat erat dengan sejarah kelahiran kerajaan Mataram Islam. Konon pola tradisional ruang kekuasaan Jawa (alun-alun, Mesjid, dan keraton) dirintis dari kota ini. Kontrasnya, Kota Gede juga dikenal sebagai kota yang hidupnya dari kegiatan berdagang dan bukan pertanian seperti layaknya kota-kota di pedalaman Jawa. Van Mook dalam tulisannya "Kota Gede" mencatat hampir 70% dari penduduk di kota ini mempunyai pekerjaan yang berkaitan dengan perdagangan.

Dominasi kegiatan berdagang di Kota Gede mempengaruhi bagaimana masyarakat memanfaatkan ruang-ruang kota. Warung sebagai salah satu komponen perdagangannya meramai, membentuk dan menjadi pasar pada hari-hari pasaran Jawa Legi. Pada hari ini terjadi transformasi nilai ruang. Jalan dan lapangan yang tadinya hanya sebuah infrastruktur berubah menjadi sebuah ruang publik.

Penelitian ini bertujuan untuk memetakan transformasi nilai ruang tersebut dan melihat seberapa jauh pengaruhnya pada perubahaan keseharian masyarakatnya dalam memanfaatkan ruang kota. Pada akhirnya penelitian ini akan bermuara pada wacana ruang dan tempat publik di Indonesia terutama tentang bagaimana masyarakat di Indonesia khususnya di Jawa melihat, memahami dan memanfaatkan ruang dan tempat publik. Dengan demikian saya berharap penelitian ini dapat berkontribusi dalam memberikan landasan dalam mengritisi dan mengapresiasi kegagalan maupun keberahasilan ruang dan tempat publik di kota-kota di Indonesia.

Kala Kunci: Warung, Pasar, Ruang Khalayak, Praktik Keseharian

Last Updated ( Wednesday, 08 October 2008 )
 
< Prev   Next >