Vernacular

Saturday
Jan 28th
Text size
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Vernacular e-Archive

Arsitektur Venakular - Mahluk Apa Itu?

Bagi yang baru saja mendengar kata vernakular, saya sarankan untuk langsung membuka dahulu bagian akhir tulisan singkat ini. Disana akan anda temukan beberapa istilah terkait yang dilengkapi interpretasi arti katanya.
Cerita Pembuka

Ketika menghadiri sebuah seminar internasional tentang arsitektur vernakular beberapa tahun yang lalu, simpanan pengetahuan saya tentang topik itu nyaris tak punya. Kemudian ketika sesi tanya jawab dimulai, Wah... leganya hati ini, hampir sebagian besar peserta menanyakan dan meminta penjelasan seputar pemahaman arti arsitektur vernakular.

Rupanya tidak hanya saya saja yang buta-paham tentang topik tersebut.

Kejadian seperti digambarkan di atas, ternyata berulang kembali pada saat menghadiri simposium nasional arsitektur vernakular beberapa tahun sesudahnya. Pada saat itu salah seorang peserta angkat bicara memberi kritik-masukan : "Sebaiknya panitia menjelaskan arti arsitektur vernakular terlebih dahulu". Padahal ketika saya buka kembali leaflet yang disebarkan jauh sebelum simposium berlangsung, disitu pemahaman tentang topik arsitektur vernakular telah diuraikan secara singkat.

Read more...

Komunitas Arsitektur Vernakular (KAV)

Pada tanggal 22 Mei 2004, Jurusan Arsitektur Universitas Katolik Parahyangan menyelenggarakan Simposium Nasional Arsitektur Vernakular yang ke-1 sebagai program pertama Komunitas Arsitektur Vernakular (KAV) di kampus Ciumbuleuit, Bandung, untuk memulai tradisi mensosialisasikan kajian-kajian akademik. Program kedua, berangkat dari banyaknya bencana yang terjadi pada waktu itu, KAV bekerjasama dengan Jurusan Arsitektur Universitas Kristen Petra dan Lembaga Sejarah Arsitektur Indonesia (LSAI), menyelenggarakan International Seminar on Vernacular Settlement yang ke-3 di Surabaya pada tanggal 2 Maret 2006 dengan tema "Rethinking Local Knowledge in Vernacular Settlement."

Program ketiga dari KAV adalah Simposium Nasional Arsitektur Vernakular ke-2 yang akan diselenggarakan di Bandung pada tanggal 15 November 2008, bertujuan untuk memahami kebijaksanaan masyarakat dalam melakukan akulturasi budaya di dunia yang berkembang pesat. Dipercaya bahwa kemampuan suatu masyarakat untuk mengadaptasikan makna dan norma-norma budaya mereka yang unik terhadap pengaruh luar [globalisasi, turisme, industrialisasi, dan sebagainya] tercermin dalam bangunan vernakular mereka.

Read more...

Gendered Spaces

GENDERED SPACES PADA ARSITEKTUR VERNAKULAR INDONESIA (Studi Kasus Rumah Tinggal Tradisional Masyarakat Bali, Atoni, dan Minangkabau)

Abstrak

Dalam konteks sosial budaya, seringkali isu gender seolah-olah semata-mata hanya merujuk pada perbedaan jenis kelamin. Perbedaan jenis kelamin ini seolah-olah menjadi batas bagi perbedaan tugas-tugas pada masing-masing jenis kelamin tersebut. Sehingga yang terjadi sekarang, munculnya fenomena-fenomena perjuangan persamaan hak bagi jenis kelamin yang merasa hak-haknya dikalahkan.

Read more...

Krobongan

Krobongan, Ruang Sakral Rumah Tradisional Jawa: Makna, Fungsi, dan Perkembangannya

Abstrak

Krobongan, artefak yang biasa ada di dalam rumah tradisional Jawa. Artefak ini dianggap sakral pada masanya, dan digunakan untuk berbagai ritual tertentu. Krobongan menjadi bagian penting dalam organisasi ruang rumah tradisional Jawa dan menjadi sentral ritual terkait dengan perjalanan kehidupan penghuninya.

Read more...

Dari Perahu ke Arsitektur

"Dari Perahu ke Arsitektur" Konsep Dasar Perwujudan Arsitektur Vernakular Sabu

Abstrak

Para ahli antropologi, mengungkap secara historis tempat pertama manusia purba berlindung untuk survive dari kondisi iklim dan gangguan binatang, adalah goa. Manusia purba dengan keterbatasan pengetahuan dan teknologi saat itu memilih tempat di alam yang telah tersedia, tanpa harus membuatnya. Ketika medan perburuan kian jauh dari goa, mereka pun membangun sarang tidur, lumbung tempat menyimpan hasil perburuan dst. Jadi, terbentuknya arsitektur saat ini dimulai dari goa. Tidak heran kalau peta mental mengenai runtutan sejarah pem-bentukan arsitektur oleh para pemburu binatang hutan di jaman batu, telah demikian merasuk cara pandang kita tentang terbentuknya arsitektur tradisional di Nusantara ini. Di sini ada suatu hal yang kita lupakan, yakni mengabaikan realita yang ada kalau nenek moyang kita adalah orang pelaut. Kita tidak lagi pernah berpikir kalau arsitektur itu bisa juga lahir dari kehidupan nenek moyang kita di laut, yakni perahu. Apakah tidak mungkin, ada suatu periode dimana kehidupan nenek moyang dengan perahu di laut itu dialihkan untuk melayari kehidupan di darat? Kenyataan ini seperti yang ditunjukan oleh nenek moyang masyarakat etnis Sabu, yang mendiami Pulau Sawu dan Raijua di Kabupaten Kupang Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Read more...

Talang Mamak

Arsitektur Suku Talang Mamak - Kajian Morpologi dan Pola Pelestarian Nilai-nilai Budaya

Abstrak

Dilatarbelakangi oleh belum efektifnya penanganan relokasi permukiman masyarakat terpencil oleh Pemerintah, banyak perumahan yang ditinggalkan oleh masyarakat sebagai indikasi belum efektifnya pole relokasi. kajian ini menggali pendekatan pelestarian yang diangkat dari nilai-nilai sosial-budaya dan kondisi lingkungan dari kelompok masyarakat yang selama ini telah termarjinalkan, persoalan yang tampak adalah permasalahan sosial, yang disebabkan oleh keterdesakan ruang kehidupan yang selama turun temurun telah berlangsung tergeser oleh tuntutan kapitalis dari luar. Kajian in telah menghasilkan pola pelestarian permukiman suku Talang Mamak yang digali dari nilai-nilai lokal untuk diwujudkan dalam tiga peberdayaan yaitu: lingkungan, sosial, dan ekonomi.

Asta Tinggi

Komplek Makam Asta Tinggi Sebagai Bukti Kekayaan Budaya Madura

Abstrak

Madura adalah satu wilayah di Jawa Timur yang memiliki kekayaan dan keragaman budaya yang sangat komplek. Berbeda dengan masyarakat Jawa pada umumnya, masyarakat Madura memiliki latar belakang primordial yang berbeda. Masyarakatnya yang termasuk dalam kelompok Ladang dan Maritim1, memiliki karakter yang terbuka. Bahkan budaya asing yang dianggapnya cocok dengan dirinya akan dianggap sebagai miliknya. Akibatnya dapat diamati bahwa pengaruh budaya luar menjadi bagian dari budaya lokal yang ada. Beberapa budaya dapat dilihat melalui karya karya dalam banyak bidang. Kuliner, mode, bahasa, arsitektur bahkan sampai kepada ragam hias yang digunakan.

Rumah Nias

Akulturasi dalam Keragaman Arsitektur Rumah Nias

Abstrak

Nias adalah salah satu kepulauan di ujung Barat Indonesia dengan pulau terbesarnya adalah pulau Nias. Memiliki karakter alam yang indah dan menjadi daerah tujuan wisata budaya, pulau Nias dikenal dengan kekayaan kultur megalitiknya. Berbagai bentuk batu megalit yang diukir dan didirikan di depan rumah mengekspresikan pesan dan mengabadikan peristiwa tertentu. Keragaman dan keunikan arsitektur pulau Nias juga dikagumi karena budaya arsitekturnya yang tinggi. Arsitektur hunian vernakular di Pulau Nias selama berabad-abad telah memperlihatkan kekayaan budaya suku bangsa Nias, sekaligus memperlihatkan keterkaitan yang erat antara masyarakat dengan lingkungan sekitar mereka.

Peran Warung

Peran Warung dalam Pembentukan Ruang Khalayak di Kota Gede, Yogyakarta1

Abstrak

Kota Gede adalah salah satu kota tua di Jawa. Kota ini dikenal karena sangat erat dengan sejarah kelahiran kerajaan Mataram Islam. Konon pola tradisional ruang kekuasaan Jawa (alun-alun, Mesjid, dan keraton) dirintis dari kota ini. Kontrasnya, Kota Gede juga dikenal sebagai kota yang hidupnya dari kegiatan berdagang dan bukan pertanian seperti layaknya kota-kota di pedalaman Jawa. Van Mook dalam tulisannya "Kota Gede" mencatat hampir 70% dari penduduk di kota ini mempunyai pekerjaan yang berkaitan dengan perdagangan.

Gereja Maria Asumpta

Implikasi Konsep Ruang Heterotopia Pada Arsitektur Gereja Karya Mangunwijaya Sebagai Akibat Adaptasi Budaya Lokal. Studi Kasus: Gereja Maria Asumpta, Klaten – Jawa Tengah

Abstrak

Konsep ruang heterotopia yang diangkat dari pemikiran Foucault mengungkap relativitas ruang tidak nyata yang mungkin bergeser dalam kondisi yang ekstrim; dari ruang nyata ke tidak nyata; atau karakter dari sakral ke profan. Konsep ini ternyata menjadi suatu yang mungkin terjadi pada bangunan gereja Katolik yang selalu lekat dengan citra sakralitas yang tinggi.

Xie Tian Gong

Xie Tian Gong, 協天宫 Bandung Chinese Temple (1917, 1896 “Sheng Di Miao.”聖帝廟): Murals Symbolism, Hermeneutic, Iconography. 

Abstract

The study refers to an old Chinese temple in Bandung, West Java, Indonesia. Historically it is related to the effect of the Chinese diaspora in Bandung’s early settlement. The temple is the only building in the district which completely copies Chinese vernacular architecture as developed in their country of origin, without any influence or regard to the local cultural traditions. It brings the culture and beliefs of the immigrants; with murals that carry messages related to their Chinese history, mythology, society, wisdoms and  religion. Together with the building elements, they form an expression of their cultural philosophy. Architectural details are products of traditional folk collective memories, worshipping their historic and religious figures. Interpretation of this temple’s existence describes the dynamic of local history, the influences to city growth.

 

Statistics

Members: 19
News: 24
Web Links: 0
Visitors: 57416

Archive

Login Form






Lost Password?
No account yet? Register

Search Vernacular

World Time Clock

Bandung

RSS feeds